Jawaban Bacaan Kali Gajah Wong kelas 4 tema 8 subtema 2

Sdonline.id – Kali ini sdonline akan membahas Kunci Jawaban Bacaan Kali Gajah Wong kelas 4 tema 8 subtema 2 pembelajaran 3. Bagaimana kisah terjadinya Kali Gajah Wong yang ada di Kota Yogyakarta? Yuk kita simak pembelajaran kali ini agar kita tahu asal usulnya.

Hari itu, Dayu dan teman-teman berdiskusi mengenai berbagai pekerjaan sesuai lingkungan tempat tinggalnya. Mereka juga berdiskusi mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Dayu bercerita bahwa dia dan ayahnya pernah berbincang dengan seorang bapak yang pekerjaannya menjadi badut. Bapak itu bernama Pak Andi. Pak Andi bekerja di sebuah mal dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Pagi hari, Pak Andi menjadi badut di sebuah taman bermain yang letaknya tidak jauh dari mal. Sampai akhirnya, pembicaraan Dayu, Ayah Dayu, dan Pak Andi ber lanjut dengan bertukar alamat. Ternyata, tempat tinggal Pak Andi tidak jauh dari mal yang Dayu kunjungi.

Amatilah gambar-gambar di bawah.

Ingatkah kalian kegiatan ekonomi? Kegiatan ekonomi terdiri atas produksi, distribusi, dan konsumsi. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Apakah yang dimaksud produksi dan produsen?

Produksi adalah kegiatan mengolah atau menghasilkan suatu barang
produsen adalah orang yang mengolah atau memproduksi barang

2. Apakah yang dimaksud distribusi dan distributor?

Distribusi adalah kegiatan menyalurkan barang dari produsen ke konsumen

Distributor adalah orang yang melakukan kegiatan menyalurkan barang

3. Apakah yang dimaksud konsumsi dan konsumen?

Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau memakai nilai guna suatu barang

Konsumen adalah orang yang menghabiskan atau memakai nilai guna suatu barang

4. Apa kegiatan penduduk pada gambar rubik “Ayo Mengamati” ?

Kegiatan yang dilakukan penduduk pada rubrik mengamati adalah kegiatan ekonomi dimana ada kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi

5. Dalam memproduksi buku, seorang produsen melibatkan banyak pekerja. Di antaranya ada penulis buku, ada yang menata isi buku, ada yang menggambar isi buku, ada yang mencetak, ada yang menjilid, ada yang menata buku dalam kardus, ada sopir yang mengantar ke toko-toko buku, dan lain sebagainya. Nah, pilih salah satu di antara pekerja yang ada pada produksi buku. Kemudian, cari tahu syarat menjadi pekerja sesuai pilihanmu dan tuliskan di tempat berikut.

Jawab : Untuk menjadi seorang penulis buku maka ada syarat-syarat yang perrlu dicapai seperti kreatifitas menemukan ide dan gagasan. Kemampuan berbahasa yang baik.

Untuk menjadi seorang penggambar pada buku maka ada syarat yang harus dipenuhi yaitu keterampilan menggambar dan membuat gambar yang sesuai dengan isi buku.

Buku merupakan sumber ilmu. Sebagai pelajar tentu kamu sangat membutuhkan buku untuk membuka cakrawala. Berbicara mengenai pelajar, tahukah kamu kota yang mendapat julukan Kota Pelajar? Kota dengan julukan Kota Pelajar adalah Yogyakarta

Kota Yogyakarta memiliki banyak keunikan. Pada Pembelajaran 2 kamu sudah mengetahui keunikan Yogyakarta di antaranya dilihat dari tempat wisata, transportasi, dan adat istiadat berupa upacara adat. Tidak hanya itu, kota Yogyakarta juga memiliki keunikan di bidang pendidikan. Banyak sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di Kota Yogyakarta. Oleh karena itu, banyak orang dari daerah lain bahkan dari mancanegara datang ke Yogyakarta untuk belajar. Tahukah kamu perguruan tinggi di Yogyakarta yang sangat terkenal? Perguruan tinggi itu adalah Universitas Gadjah Mada yang disingkat UGM. Selain UGM, masih banyak lagi perguruan tinggi di Yogyakarta seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Karena banyak perguruan tinggi di Yogyakarta, banyak orang yang bekerja sebagai dosen atau guru.

Bagaimanakah karakteristik pelajar di kota Yogyakarta? Saat ini daerah Yogyakarta sudah dihuni banyak suku bangsa di Indonesia seperti suku Jawa, Sunda, Batak, serta etnis TiongHoa. Oleh karena itu, karakteristik pelajar yang ada di Yogyakarta beragam. Di sekolah, setiap pelajar harus bisa menghormati keragaman karakteristik di antaranya mau berteman dengan anak dari daerah lain tanpa memandang agama maupun sukunya. Begitu juga saat di lingkungan tempat tinggal, para pelajar dari berbagai daerah yang tinggal di satu lingkungan harus hidup rukun. Manusia harus hidup rukun di tengahtengah perbedaan. Perbedaan adalah karunia Tuhan. Perbedaan merupakan sarana untuk saling mengenal. Sebagai contoh, pada saat di lingkungan tempat tinggal mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan, para pelajar dari berbagai daerah pun ikut serta dalam bekerja bakti.

Amatilah gambar berikut!

Apakah gambar di atas menunjukkan keragaman karakteristik? Apa yang sedang dilakukan anak-anak pada gambar di atas? Tuliskan pendapatmu pada tempat di bawah.

Jawab : ya gambar diatas menunjukkan keragaman karakteristik suku yang ada di Indonesia, juga menunjukkan keragaman karakteristik fisik.

Menurut saya mereka sedang melakukan diskusi atau musyawarah. Meskipun berbeda-beda, kita harus saling menghargai pendapat satu sama lain.

Kamu di sekolah mempunyai banyak teman dengan keragamannya. Ada teman dengan ciri fisik berbeda-beda. Ada teman berbeda agama. Ada juga teman dengan asal daerah tempat tempat tinggal berbeda.

Bagaimana kamu menyikapi keragaman karakteristik di sekolahmu? Tuliskan dalam kolom berikut.

1. dengan saling menghargai perbedaan yang ada
2. saling memberikan kesempatan satu sama lain untuk beribadah sesuai agamanya
3 tidak saling mengejek atau merendahkan satu sama lain

Daerah tempat tinggal penduduk Yogyakarta beragam. Ada daerah dataran tinggi, dataran rendah, pesisir, kota, dan desa. Di Yogyakarta juga banyak dijumpai sungai, di antaranya Sungai Opak, Sungai Code, Sungai Kuning, Sungai Progo, dan Sungai Gajah Wong.

Salah satu sungai di Yogyakarta yang memiliki cerita legenda adalah Sungai Gajah Wong. Penduduk Yogyakarta sering menyebut sungai dengan kali. Kali Gajah Wong adalah sebuah kali yang terletak di tengah-tengah kota Kecamatan Kotagede. Panjang kali ini tidak lebih dari 20 kilometer. Pada abad ke-17, kali ini merupakan kali yang kecil. Masyarakat di daerah tersebut menyebutnya dengan kalen, yang artinya kali kecil. Dan kebetulan airnyapun hanya gemercik mengalir sedikit sekali.

http://gajahwonggreen.blogspot.co.id/2012/11/sungai-gajah-wong-d.html

Berikut cerita mengenai Kali Gajah Wong

Kali Gajah Wong

Hari itu, Ki Sapa Wira bersiul riang. Seperti biasa, ia akan memandikan gajah milik junjungannya, Sultan Agung, raja Kerajaan Mataram. Dengan hati-hati, Ki Sapa Wira menuntun gajah yang dinamai Kyai Dwipangga itu.

Mereka berjalan ke sungai yang terletak di dekat Keraton Mataram.Mulailah ia memandikan gajah yang berasal dari negeri Siam itu.

“Nah, sekarang kau sudah bersih. Rambutmu sudah mengilap, sekarang ayo kembali ke kandangmu,” kata Ki Sapa Wira kepada Kyai Dwipangga.

Ki Sapa Wira memang memperlakukan Kyai Dwipangga seperti anaknya sendiri. Tak heran, Kyai Dwipangga amat patuh padanya.

Suatu hari, Ki Sapa Wira tak bisa memandikan Kyai Dwipangga. Ada bisul besar di ketiaknya, rasanya ngilu sekali. Badannya juga demam karena bisul itu. Ia meminta tolong pada adik iparnya, Ki Kerti Pejok, untuk menggantikan memandikan Kyai Dwipangga. “Kerti, tolong aku ya. Aku benar-benar tak bisa bekerja hari ini,” kata Ki Sapa Wira.

“Tenang Kang, aku pasti akan membantumu. Tapi tolong beritahu, bagaimana caranya supaya gajah itu menurut padaku? Aku takut jika nanti ia marah dan menyerangku,” jawab Ki Kerti Pejok.

“Biasanya kalau ia mulai gelisah, pantatnya aku tepuk-tepuk, lalu aku tarik ekornya. Nanti ia akan kembali tenang dan berendam sendiri di sungai. Kau tinggal memandikannya,” jelas Ki Sapa Wira. Ki Kerti Pejok mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia lalu berangkat ke sungai untuk memandikan Kyai Dwipangga.

Sepanjang perjalanan Ki Kerti Pejok mengajak Kyai Dwipangga mengobrol. Ia juga membawa buah-buahan sebagai bekal dalam perjalanan. “Gajah gendut, kau mau makan kelapa?” tanyanya sambil melemparkan sebutir kelapa pada Kyai Dwipangga. Kyai Dwipangga menangkap kelapa itu dengan belalainya. Dengan mudah ia memecah kelapa itu dan memakannya.

“Sekarang kau sudah kenyang, kan? Ayo jalan lagi,” kata Ki Kerti Pejok sambil memukul pantat Kyai Dwipangga.

Sesampainya di sungai, Ki Kerti Pejok melaksanakan tugasnya dengan mudah. Digosoknya seluruh bagian tubuh Kyai Dwipangga sampai bersih dan berkilap. Setelah itu mereka pulang ke keraton Mataram. “Kang, hari ini aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Apa besok Kakang masih memerlukan bantuanku?” tanya Ki Kerti Pejok pada Ki Sapa Wira.

“Jika kau tak keberatan, maukah kau memandikannya sekali lagi? Aku masih demam, sedangkan gajah itu harus dimandikan setiap hari,” jawab Ki Sapa Wira.

“Baik Kang, aku tidak keberatan. Toh gajah itu sangat penurut. Jadi, aku tak kesulitan saat memandikannya,” kata Ki Kerti Pejok.

“Terima kasih Kerti, lusa aku pasti sudah sembuh. Kau akan bebas dari tugas ini,” kata Ki Sapa Wira.

Keesokan harinya, Ki Kerti Pejok menjemput Kyai Dwipangga. Pagi itu hujan turun rintik-rintik, tapi sepertinya tak akan bertambah deras. Di sungai Ki Kerti Pejok bimbang karena dilihatnya air sungai sedang surut.

“Wah, airnya dangkal sekali. Mana bisa gajah ini berendam? Aku sendiri saja tak bisa, apalagi gajah yang besar?” pikirnya dalam hati.

“Gajah gendut, kita cari sungai yang lain saja. Sungai ini dangkal, kau tak akan bisa berendam di sini.”

Ki Kerti Pejok menuntun Kyai Dwipangga ke hilir sungai. Di situ air tampak tinggi dan aliran juga cukup deras. “Nah, di sini sepertinya lebih asyik. Ayo, sana masuk, berendamlah. Aku akan menggosok punggungmu dengan daun kelapa ini,” kata Ki Kerti Pejok sambil memukul pantat Kyai Dwipangga. Sambil memandikan Kyai Dwipangga, Ki Kerti Pejok berpikir dalam hati.

“Sebaiknya aku beritahu Kakang untuk memandikan gajahnya di sini. Disini airnya lebih dalam, arusnya juga cukup deras. Aneh, kok selama ini Kanjeng Sultan Agung tak tahu keberadaan sungai ini, ya?”

Saat ia sibuk berbicara sendiri, tiba-tiba dari arah hulu datanglah banjir bandang yang sangat besar. Banjir itu datang dengan sangat cepat. Ki Kerti Pejok dan Kyai Dwipangga bahkan tak menyadarinya. Dalam sekejap, mereka terhempas dan terbawa arus. “Tolong… tolonggg…,” teriak Ki Kerti Pejok. Tapi tak ada yang mendengar. Sungguh menyedihkan nasib Ki Kerti Pejok dan Kyai Dwipangga. Mereka terseret arus dan hanyut sampai ke Laut Selatan.

Sungguh sangat disayangkan, mereka binasa dalam keganasan banjir bandang itu. Ki Kerti Pejok tak tahu bahwa selama ini Sultan Agung memang melarang para abdinya memandikan gajah di hilir sungai. Karena ia tahu bahaya bisa datang sewaktu-waktu di sana. Ki Sapa Wira berduka. Ia sangat sedih karena kehilangan adik ipar dan gajah kesayangannya.

Untuk mengenang kejadian itu, Sultan Agung menamakan sungai itu Kali Gajah Wong. Kali berarti sungai, gajah wong berarti gajah dan orang. Kali Gajah Wong ini terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta.

Sumber: http://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-yogyakarta-dongeng-candi-prambanan/

Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan teks cerita di atas.

1. Siapa saja tokoh pada cerita di atas?

Jawab : Ki Sapa Wira, Sultan Agung, Kyai Dwipangga, Ki Kerti Pejok

2. Adakah tokoh antagonis dan protagonis pada  cerita? Siapakah tokoh itu?

Jawab : tokoh protagonis dalam cerita diatas adalah Ki Sapa Wira, Sultan Agung, Kyai Dwipangga, Ki Kerti Pejok

Kesimpulan

Demikianlah pembahasan Kunci Jawaban Bacaan Kali Gajah Wong kelas 4 tema 8 subtema 2 pembelajaran 3. Pada pembelajaran kali ini kita sudah belajar mengenai kegiatan ekonomi yang terdiri dari produksi, distribusi dan konsumsi. padapembelajaran kali ini juga kita belajar tentang cara mengadapi perbedaan dan juga asal usul Kali Gajah Wong. Menarik bukan? Nantikan pembahasan materi selanjutnya di sdonline.id

0

Materi Terkait


Tinggalkan komentar